Foto: Pontas Hottua Simamora, caleg NasDem untuk DPRD Bali Dapil Denpasar.

Denpasar, SuaraRestorasi.com

Salah satu pendiri ormas NasDem di Bali Pontas Hottua Simamora Bali tidak hanya memantapkan langkah perjuangan totalitas maju tarung nyaleg ke DPRD Bali Dapil Denpasar pada Pileg 2024 mendatang. Namun dirinya menegaskan optimismenya untuk bisa membawa NasDem pecah telur punya wakil rakyat di DPRD Provinsi dari Dapil Denpasar walaupun di tengah persaingan yang begitu ketat dan berat dengan para caleg petahana maupun pendatang baru.

Untuk diketahui saat ini NasDem Bali hanya punya 2 kursi DPRD Bali hasil Pileg 2019 masing-masing dari Dapil Karangasem dan Buleleng. Di Pileg 2024 NasDem Bali menargetkan setidaknya bisa merebut 5 kursi atau membentuk satu fraksi gemuk di DPRD Bali.

Lebih lanjut Pontas mengatakan bahwa sebagai kader NasDem dirinya sangat optimis bisa merebut kursi di DPRD Bali dari Dapil Denpasar karena menurutnya tidak ada perjuangan yang langsung merasa kalah walaupun lawan-lawan cukup berat.

“Hitung-hitungan realistisnya begini, NasDem dulu sudah punya mendapat 12.000 suara di Pemilu tahun 2019, nah kalau kita hanya untuk pecah telur di putaran terakhir aja kita dengan asumsi 23 ribu atau 24 ribu, saya kira kita pecah telor,” tegas Pontas belum lama ini.

“Nah, bagaimana kita bisa dapatkan? Dengan asumsi, dengan harapan 8 orang caleg ini mendapatkan suara yang maksimal, anggaplah rata-rata 3000, ini sangat mungkin,” imbuhnya politisi NasDem yang kini menjadi Wakil Ketua Bidang Ekonomi Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai NasDem Provinsi.

Pontas menambahkan bahwa optimisme tersebut juga karena melihat latar belakang para caleg NasDem yang bervariasi, yang tentunya sudah memiliki banyak followers. Pontas juga mengkritisi istilah politik identitas. Menurutnya identitas itu adalah suatu keniscayaan dan keharusan, seperti halnya identitas yang ada di dalam KTP. Namun Pontas mengingatkan bahwa jangan sampai menyalahgunakan identitas tersebut. Pontas juga menolak keras praktek-praktek money politic atau politik uang.

“Dan itu kritik saya terhadap istilah politik identitas. Identitas itu suatu keniscayaan, keharusan. Orang harus tahu, di KTP aja kan harus ada identitas, tapi bukan bermaksud itu disalahgunakan. Namun irisan kita yang terdekat lah yang kita akan coba jelaskan gitu loh. Yang 40% ini, pendatang itu sedikit yang berebut di sana, sementara di 60%, yang Bali ini kuenya direbut oleh banyak caleg keluarga Bali asli,” ungkapnya.

“Secara pribadi saya jujur, ya anggaplah komunitas terdekat saya sebagai seorang dari Sumatera, belum lagi pendatang-pendatang dari yang lain. Dan itu tidak sekedar angan-angan ya. Itu sudah nyatakan langsung gitu loh. Dan itu tanpa money politic. Jadi kita memang sepakat untuk tidak money politik,” pungkas caleg NasDem untuk DPRD Bali Dapil Denpasar yang mendapatkan nomor urut 5 ini. (sr)

Bagikan Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *